
11.04.2009
HAPPY BIRTHDAY T.O.P I LOVE YOU SO MUCH!!
SORRY IT'S BEEN SO LATE TO SAY IT,BUT HAPPY BIRTHDAY T.O.P
HOPE WITH YOUR NEW AGE,YOU ALWAYS IN GOD CARE (LOL)
HOPE YOU CAN REACH ALL YOUR DREAMS (LOL TWICE)
I JUST CALLED TO SAY I LOVE YOU (what the hell)
omaigod,i'm too shock and can't say anything *blush*
pokoknya cuma pengen bilang;
T.O.P i really really hope in your happiest day,YOU CAN BE REALLY HAPPY
sound cliche?? but it's true,i can't say anymore
because what inside the heart cannot be tell with a word or speech
LOVE can't be written

kedengerannya SO EXAGERATED,tapi it's true kok,gue emang nge faaaaans bgt sama loooo
10.10.2009
what about if I said long time ago I used to love you??
bagaimana kalo saya bilang saya dulu sangat mencintai kamu??
oh tidak mungkin sekarang saya juga masih mencintai kamu
tapi saya menyerah dan berhenti berharap karena saya pikir kamu tidak mencintai saya sama sekali
dulu saya pikir penderitaan saya begitu manis tapi kini saya tahu
saya harus bilang BERHENTI kepada diri saya sendiri
BERHENTI dari mencintai kamu
apakah saya sanggup??
it's posted by annsbelle 0 komentar
Label: think
10.03.2009
vintage fashion!
Holla! I just found a veryvery good web! it's about a vintage fashion,and it have a pict too! YAY love it :)




it's posted by annsbelle 0 komentar
8.28.2009
WALL - E!!

i love WALL - E!! The robot is cute (WALL-E,EVE,M-O) aaawwww...
And i do love the soundtrck!! (IT ONLY TAKES A MOMENT,LA VIE EN ROSE,ALL THATS LOVE ABOUT)
And i try make a funny voices like WALL-E (but i love M-O voices!!) yeah i know its silly,but its fun,LOL
of course i just make that voices when iam alone in my room,hoho
fav character :
it's posted by annsbelle 0 komentar
Label: movie
8.26.2009
quote :from PAULO COELHO:
By the River Piedra I sat down and wept. There is a legend that everything that falls into the waters of this river –– leaves, insects, the feathers of birds ––is transformed into the rocks that make the riverbed. If only I could tear out my heart and hurl it into the current, then my pain and longing would be over, and I could finally forget.
By the River Piedra I sat down and wept. The winter air chills the tears on my cheeks, and my tears fall into the cold waters that course past me. Somewhere, this river joins another, then another, until –– far from my heart and sight –– all of them merge with the sea.
May my tears run just as far, that my love might never know that one day I cried for him. May my tears run just as far, that I might forget the River Piedra, the monastery, the church in the Pyrenees, the mists, and the paths we walked together.
I shall forget the roads, the mountains, and the fields of my dreams –– the dreams that will never come true.
I remember my “magic moment” –– that instant when a “yes” or a “no” can change one’s life forever. It seems so long ago now. It is hard to believe that it was only last week that I had found my love once again, and then lost him.
I am writing this story on the bank of the River Piedra. My hands are freezing, my legs are numb, and every minute I want to stop.
“Seek to live. Remembrance is for the old,” he said.
Perhaps love makes us old before our time –– or young, if youth has passed. But how can I not recall those moments? That is why I write –– to try to turn sadness into longing, solitude into remembrance. So that when I finish telling myself the story, I cam toss it into the Piedra. That’s what the woman who has given me shelter told me to do. Only then –– in the words of one of the saints –– will the water extinguish what flames have written.
All love stories are the same."
— Paulo Coelho
By the River Piedra I sat down and wept. The winter air chills the tears on my cheeks, and my tears fall into the cold waters that course past me. Somewhere, this river joins another, then another, until –– far from my heart and sight –– all of them merge with the sea.
May my tears run just as far, that my love might never know that one day I cried for him. May my tears run just as far, that I might forget the River Piedra, the monastery, the church in the Pyrenees, the mists, and the paths we walked together.
I shall forget the roads, the mountains, and the fields of my dreams –– the dreams that will never come true.
I remember my “magic moment” –– that instant when a “yes” or a “no” can change one’s life forever. It seems so long ago now. It is hard to believe that it was only last week that I had found my love once again, and then lost him.
I am writing this story on the bank of the River Piedra. My hands are freezing, my legs are numb, and every minute I want to stop.
“Seek to live. Remembrance is for the old,” he said.
Perhaps love makes us old before our time –– or young, if youth has passed. But how can I not recall those moments? That is why I write –– to try to turn sadness into longing, solitude into remembrance. So that when I finish telling myself the story, I cam toss it into the Piedra. That’s what the woman who has given me shelter told me to do. Only then –– in the words of one of the saints –– will the water extinguish what flames have written.
All love stories are the same."
— Paulo Coelho
it's posted by annsbelle 0 komentar
Label: poem
kepada kamu
Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
aku takut sendirian.
Dengan penuh kebencian.
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
aku takut sendirian.
from : www.radityadika.com -
it's posted by annsbelle 0 komentar
Label: poem
Subscribe to:
Posts (Atom)







